selamat berkunjung....

Menu

TESTIMONI MATA KULIAH PSIKOLOGI PENDIDIKAN (BEFORE UTS)



TESTIMONI PERKULIAHAN PSIKOLOGI PENDIDIKAN
       Diawal semester 2 ini, saya dan teman-teman diangkatan mulai memasuki pelajaran-pelajaran yang baru dan semakin mengarah ke dunia psikologi dibandingkan saat semester 1. Salah satunya mata kuliah yang cukup menarik yaitu Psikologi Pendidikan. Di Psikologi Pendidikan ini, saya dan teman-teman diajarkan bagaimana penerapan ilmu psikologi dalam dunia pendidikan. Saya dan teman-teman juga diajarkan bagaimana penerapan teknologi dalam pendidikan, motivasi untuk siswa, model-model pembelajaran, sampai membahas isu-isu multikultural di dunia pendidikan yang saat ini cukup menjadi trending topic di dunia pendidikan Indonesia. Hal yang paling berkesan dan membuat saya semakin bersemangat mempelajari mata kuliah ini yaitu kami langsung diterjunkan ke dunia sekolah untuk mengobservasi mereka. Jadi, selain teori kami juga harus mempraktekkan teori tadi di dunia pendidikan. Kebetulan, saya dan teman-teman kelompok saya pergi ke SMK Negeri 1 Percut Sei Tuan untuk observasi. Disini saya bisa menilai langsung dan menerapkan teori yang sudah diajarkan tadi kepada adik-adik di sekolah tersebut. Dosen-dosen pengampu yang mengajarkan mata kuliah ini kepada kami juga sangat kreatif dan aktif serta menyenangkan, hal ini membuat kami semakin bersemangat untuk belajar lagi dan lagi. Begitu pula dengan tugas-tugas yang diberikan cukup menantang. Walaupun, terkadang saya kurang paham akan tugas-tugasnya namun saya bisa mengambil kesimpulan bahwa salah dan benar itu urusan belakangan. Masih banyak lagi pengalaman-pengalaman yang saya lalui selama kurang lebih 3 bulan belajar mata kuliah ini. Intinya pelajaran psikologi pendidikan menantang bangett...
Okay sampai disini dulu testimoni saya yaa reader.. buat adek-adek yang baru selesai UN SMK/SMA jangan ragu yaa buat ngambil psikologi saat seleksi perguruan tinggi nanti.. karena kalian bakal ngerasain pelajaran-pelajaran menyenangkan dan menantang pastinyaa.. See you J

Tugas Blog III : Motivasi dan Proses Kognitif



MOTIVASI DAN PROSES KOGNITIF

Ø Apa itu motivasi ?
            Motivasi adalah proses yang memberi semangat, arah, dan kegigihan perilaku. Artinya, perilaku yang termotivasi adalah perilaku yang penuh energi, terarah, dan bertahan lama.
Ø Perspektif tentang motivasi
            Perspektif psikologis menjelaskan motivasi dengan cara yang berbeda berdasarkan perspektif yang berbeda pula.
1.       Perspektif behavioral
Perspektif behavioral menekankan imbalan dan hukuman eksternal sebagai kunci dalam menentukan motivasi murid. Insentif adalah peristiwa atau stimuli positif atau negatif yang dapat memotivasi perilaku murid. Insentif yang dipakai guru di kelas antara lain nilai yang baik, yang memberikan indikasi tentang kualitas pekerjaan murid, dan tanda bintang atau pujian jika mereka menyelesaikan suatu tugas dengan baik.
Contohnya : Lily mendapatkan nilai baik di sekolah, dalam upaya sebagai ganjaran,   guru pun melakukan insentif dikelas antara lain mengumumkan namanya sebagai siswi dengan nilai terbaik dan Lily pun merasa termotivasi dengan hal itu.


2.      Perspektif Humanistis
Perspektif Humanistis menekankan pada kapasitas murid untuk mengembangkan kepribadian, kebebasan untuk memilih nasib mereka dan kualitas positif (seperti peka terhadap orang lain). Perspektif ini berkaitan erat dengan pandangan Abraham Maslow bahwa kebutuhan dasar tertentu harus dipuaskan dahulu sebelum memuaskan kebutuhan yang lebih tinggi.

Menurut hierarki kebutuhan Maslow, kebutuhan individual harus dipuaskan dalam urutan sebagai berikut.

3.       Perspektif kognitif
Menurut perspektif kognitif, pemikiran murid akan memandu motivasi mereka. Belakangan ini muncul minat besar pada motivasi menurut perspektif kognitif. Minat ini berfokus pada ide-ide seperti motivasi internal murid untuk mencapai sesuatu, atribusi mereka (persepsi tentang sebab-sebab kesuksesam dan kegagalan, terutama persepsi bahwa usaha adalah faktor penting dalam prestasi), keyakinan mereka bahwa mereka dapat mengontrol lingkungan mereka secara efektif.  Perspektif kognitif tentang motivasi sesuai dengan gagasan R. W. White, yang mengusulkan konsep motivasi kompetensi yakni ide bahwa orang termotivasi untuk menghadapi lingkungan mereka secara efektif, menguasai dunia mereka, dan memproses informasi secara efisisen .
Contonya : Seorang anak yang memilikipandanga yang luas akan sebuah kesuksesan dari pandangan tersebut sianak akhirnya ia memiliki dorongan yang kuat atau motivasi untuk mencapai kesuksesan yang ia idamkan.

4.      Perspektif sosial
Kebutuhan afiliasi atau keterhubungan adalah motif untuk berhubungan dengan orang lain secara aman. Ini membutuhkan pembentukan, pemeliharaan dan pemulihan hubungan personal yang hangat dan akrab. Murid sekolah yang punya hubungan yang penuh perhatian dan suportif biasanya memiliki sikap akademik yang lebih positif dan lebih senang bersekolah.
Contohnya : Seorang anak memilih berteman dengan orang yang lebih baik dari dia sehingga dia pun memiliki motivasi agar sama atau setara baiknya dengan temannya tersebut.

Ø Motivasi Untuk Meraih Sesuatu
Motivasi Ekstrinsik dan Intrinsik
*      Motivasi ekstrinsik adalah melakukan sesuatu untuk mendapatkan sesuatu yang lain (cara untuk mencpai tujuan).
Contohnya : Murid mungkin belajar keras menghadapi ujian untuk mendapatkan nilai yang diatas rata-rata(memuaskan).
*      Motivasi Intrinsik adalah motivasi internal untuk melakukan sesuatu demi sesuatu itu sendiri(tujuan itu sendiri).
Contohnya : Murid belajar di malam hari untuk menghadapi ujian karena dia senang pada mata pelajaran yang akan diujiankan besoknya.
Murid termotivasi untuk belajar saat mereka diberi pilihan, senang menghadapi tantangan yang sesuai dengan kemampuan mereka, dan mendapatkan imbalan yang mengandung nilai informasional tetapi bukan dipakai untuk kontrol.  Pujian juga bisa memperkuat motivasi intrinsik murid. 




Sumber : Santrock, Jhon W.2004.Psikologi Pendidikan Edisi Ketiga.Jakarta:Prenadamedia Group.


Tugas Blog II : Belajar



Haii...                                                                                                                                                           Di sore hari yang cerah ini aku mau bagikan sedikit informasi dan ilmu yang berbau cerah-cerah juga buat kalian semua. Hehehe... Nah, jika sebelumnya aku udah memposting topik tentang psikologi pendidikan dan ruang lingkupnya, kali ini aku bakal memposting sebuah topik tentang "Belajar" yang sudah diajarkan oleh dosen saya Ibu Fasti Rola, M.Psi., psikolog. Seperti yang kita tahu guys, hidup tanpa belajar sama aja kayak pintu tanpa kunci. Coba bayangkan kalo pintu rumah kita ga ada kunci atau pengaman nya , semua barang-barang kita bakal hilang gitu aja dan apa yang udah kita dapetin bakal sia-sia. Gitu juga guys hidup tanpa belajar.  Kita ga bakal tahu apa-apa tentang dunia ini, pemikiran kita juga bakal sempit dan hidup kita akan berakhir sia-sia terlindas oleh zaman. Itulah kenapa hari ini aku mau posting  tentang belajar supaya teman-teman semua semakin termotivasi untuk belajar apapun itu yang bermanfaat buat hidup kalian. Okay guys. . . langsung aja kita mulai ya
Pendekatan Behavioral dan Kognitif Sosial
Ø Apa itu pembelajaran ?
            Pembelajaran (learning) dapat didefinisikan sebagai pengaruh permanen atas perilaku, pengetahuan, dan keterampilan berpikir, yang diperolah melalui pengalaman.
Ø Pendekatan Untuk Pembelajaran
          Behaviorisme adalah pandangan yang menyatakan bahwa perilaku harus dijelaskan melalui pengalaman yang dapat diamati, bukan dengan proses mental. Proses mental didefinisikan oleh psikolog sebagai pikiran, perasaan, dan motif yang kita alami namun tidak bisa dilihat oleh orang lain.
          Kognitif . Empat pendekatan kognitif utama untuk pembelajaran terdiri dari : Kognitif sosial, pemrosesan informasi kognitif, konstruktivis kognitif, dan konstruktivis sosial.

Ø Pendekatan Behavioral Untuk Pembelajaran
            Pengondisian Klasik adalah tipe pembelajaran di mana suatu organisme belajar untuk mengaitkan atau mengasosiasikan stimuli. Tipe pembelajaran ini diperkenalkan oleh seorang psikolog asal Rusia, Ivan Pavlov. Untuk memahami teori pengondisian klasik kita harus memahami dua tipe stimuli dan dua tipe respon; unconditioned stimulus (US), unconditioned response (UR), conditioned stimulus (CS), dan conditioned response (CR).
Unconditioned stimulus (US) adalah sebuah stimulus yang secara otomatis menghasilkan respons tanpa ada pembelajaran terlebih dahulu. Dalam eksperimen Pavlov, makanan adalah US. Unconditioned response (UR) adalah respons yang tidak dipelajari yang secara otomatis dihasilkan oleh US. Dalam eksperimen Pavlov, air liur anjing yang merespons makanan adalah UR. Sebuah conditioned stimulus (CS) adalah stimulus yang sebelumnya netral yang akhirnya menghasilkan conditioned response setelah diasosiasikan dengan US. Di antara stimuli yang terkondisi dalam eksperimen Pavlov, adalah beberapa penglihatan dan suara yang terjadi sebelum anjing menyantap makanan . Conditioned response (CR) adalah respons yang dipelajari,yakni respons terhadap stimulus yang terkondisikan yang muncul setelah terjadi pasangan US-CS.

          Pengondisian Operan adalah sebentuk pembelajaran di mana konsekuensi-konsekuensi dari perilaku menghasilkan perubahan dalam probabilitas perilaku itu akan diulangi. Arsitek utama dari pengondisian operan adalah B.F Skinner, yang pandangannya didasarkan pada pandangan E.L Thorndike.
a.       Hukum efek Thorndike
Hukum efek Thorndike menyatakan bahwa perilaku yang di ikuti dengan hasil positif akan diperkuat dan bahwa perilaku yang diikuti dengan hasil negatif akan diperlemah. 

b.      Pengondisian Operan Skinner
Penguatan dan hukuman.
            Penguatan (imbalan) adalah konsekuensi yang meningkatkan probabilitis bahwa suatu perilaku akan terjadi.
            Hukuman (punishment) adalah konsekuensi yang menurunkan probabilitas terjadinya suatu perilaku.
Suatu penguatan boleh jadi kompleks. Penguatan berarti memperkuat. Dalam penguatan positif, frekuensi respons meningkat karena diikuti dengan stimulus yang mendukung. Dalam penguatan negatif, frekuensi respons meningkat karena diikuti dengan penghilangan stimulus yang merugikan .
  
Generalisasi, diskriminasi, dan pelenyapan.
Generalisasi adalah tendensi dari suatu stimulus yang sama dengan conditioned stimulus untuk menghasilkan respons yang sama terhadap conditioned response. Artinya, generalisasi dalam pengondisian operan berarti memberikan respons yang sama terhadap stimuli yang sama.
Perlu pula diingat bahwa, diskrimasi berarti merespons stimuli tertentu tapi tidak merespons stimuli lainnya. Diskriminasi dalam pengondisian operan berarti pembedaan di antara stimuli dan kejadian lingkungan.
Dalam pengomdisian operan, pelenyapan (extinction) terjadi ketika respons penguat sebelumnya tidak lagi diperkuat dan responnya menurun.

Ø Analisis Perilaku Terapan Dalam Pendidikan
*      Apa itu analisis perilaku terapan ?
                        Analisis perilaku terapan adalah penerapan prinsip pengondisian operan                        untuk mengubah perilaku manusia.
*      Meningkatkan Perilaku yang Diharapkan
1.       Memilih penguat yang Efektif.
2.      Menjadikan penguat kontingen dan tepat waktu.
3.      Memilih jadwal penguatan terbaik.
4.      Menggunakan perjanjian.
5.      Menggunakan penguatan negatif secara efektif.
6.      Menggunakan prompt dan shaping
Prompt (dorongan) adalah stimulus tambahan atau isyarat tambahan yang diberikan sebelum respons dan meningkatkan kemungkinan respons itu akan terjadi.
Shaping adalah mengajari perilaku baru dengan memperkuat perilaku yang mirip dengan perilaku sasaran.
*      Mengurangi Perilaku yang Tidak Diharapkan
1.       Menggunakan penguatan diferensial.
2.      Menghentikan penguatan (pelenyapan).
3.      Menghilangkan stimuli yang diinginkan.
4.      Memberikan stimuli yang tidak disukai (hukuman).

Ø Teori Kognitif Sosial Bandura
Teori kognitif sosial menyatakn bahwa faktor sosial dan kognitif, dan juga faktor perilaku, memainkan peran penting dalam pembelajaran. Albert Bandura merupakan salah satu arsitek utama teori kognitif sosial. Dia mengatakan bahwa ketika murid belajar, mereka dapat merepresentasikan atau mentransformasi pengalaman mereka secara kognitif. Bandura mengembangkan model determinisme resiprokal yang terdiri dari tiga faktor utama : Perilaku, person/kognitif, dan lingkungan. Dalam model pembelajaran Bandura, faktor person (kognitif) memainkan peran penting. Faktor person (kognitif) yang ditekankan Bandura pada masa belakangan ini adalah self-efficacy, yakni keyakinan bahwa seseorang bisa menguasai situasi dan menghasilkan hasil positif. Bandura mengatakan, bahwa self-efficacy berpengaruh besar terhadap perilaku.

Ø Pembelajaran Observasional
            Pembelajaran observasional, juga dinamakan imitasi atau modeling, adalah pembelajaran yang dilakukan ketika seseorang mengamati dan meniru perilaku orang lain.
          Model Pembelajaran Observasional Kontemporer Bandura
1.       Atensi. Sebelum murid dapat meniru tindakan model, mereka harus memerhatikan apa yang dilakukan atau dikatakan si model.
2.      Retensi. Untuk mereproduksi tindakan model, murid harus mengodekan informasi dan menyimpannya dalam ingatan (memori) sehingga informasi itu bisa di ambil kembali
3.      Produksi. Belajar, berlatih, dan berusaha dapat membantu murid untuk meningkatkan kinerja motor anak.
4.      Motivasi. Anak sering memerhatikan apa yang dikatakan atau dilakukan model, menyimpan informasi dalam memori, dan memiliki kemampuan gerak untuk menirukan tindakan model, dan memiliki kemampuan gerak untuk menirukan tindakan model, namun tidak termotivasi untuk melakukannya. Akan tetapi, anak akan melakukan apa yang dilakukan model (menirukan) setelah diberi insentif(penguat).

 
/* Start http://www.cursors-4u.com */ body, a:hover {cursor: url(http://ani.cursors-4u.net/anime/ani-13/ani1216.cur), progress !important;} /* End http://www.cursors-4u.com */

About